Sangoguna:Slaia/Strategi Mengembangkan Bahasa Nias di Era Digital

Dalam tulisan sebelumnya saya telah berargumen bahwa untuk melestarikan bahasa Nias di era digital, sekedar dokumentasi tidaklah cukup. Sebaliknya para penggiat bahasa Nias harus juga 1) mengembangkan kosa kata melalui sebuah "dapur bahasa" dan 2) harus mengembangkan bahasa Nias dengan fokus pada generasi digital dengan segala implikasinya.

Dalam tulisan ini saya meneruskan refleksi saya setelah setahun bergelut dengan program lima tahun (2020-2025) pengembangan bahasa Nias di era digital. Kita telah tahu fokus yang menjadi sasaran kita, namun strategi apa yang harus kita tempuh? Tanpa strategi yang tepat, segala usaha yang telah dimulai ini akan mati muda.

Ada beberapa strategi, namun supaya jangan terlalu panjang, dalam tulisan ini saya konsentrasi pada satu strategi saja. Strategi lainnya bisa jadi bagian tulisan tersendiri nanti.

Sebelum saya menjelaskan salah satu strategi yang perlu kita tempuh untuk itu, baik dulu kita perjelas faktor-faktor berikut. Sebab hanya dengan menyadari kekuatan dan kelemahan kita sendiri, kita bisa memaksimalkan capaian kita.

Faktor yang harus kita turut pertimbangkan:

1. Sumber daya terbatas (tenaga dan waktu). Kegiatan melestarikan bahasa bukanlah sesuatu yang menarik minat banyak orang. Memiliki 7 sampai 8 orang kontributor tetap sudah lumayan. Tetapi kenyataannya saat ini hanya ada 4 orang kontributor aktif dan konsisten. Selain itu semua kontributor ini adalah para relawan yang telah cukup sibuk dengan pekerjaan utamanya masing-masing. Mereka hanya menggunakan waktu luang untuk program ini, karena itu kemajuan kerja jauh lebih lambat daripada yang diharapkan.

2. Kreativitas dan bakat menulis. Setiap orang bisa memiliki banyak ide brilian, namun tidak setiap orang mampu menerjemahkannya ke dalam satu tulisan. Kendati seseorang bisa seharian bercerita kesana kemari, belum tentu dia mampu memberi struktur pada pemikirannya itu.

3. Mutu dan klasifikasi tulisan. Andaikan pun seseorang berhasil menuangkan berbagai idenya ke dalam bentuk tulisan, belum tentu tulisan tersebut bermutu atau dapat diklasifikasikan sebagai sebuah tulisan di ensiklopedia misalnya.

3. Standar bahasa Nias. Bahasa Nias tidak memiliki aksara dan karena itu tidak ada aturan penulisan baku. Yang ada adalah terjemahan Kitab Suci ke dalam bahasa Nias yang dilakukan oleh seorang misionaris lebih 100 tahun yang lalu. Sementara itu bahasa Nias telah berkembang dan berubah (bandingkan misalnya dengan bahasa Indonesia, yang telah berapa kali mengalami pembaharuan sejak zaman Siti Nurbaya, dari bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia sekarang!). Karena itu terdapat kesimpangsiuran entah itu dalam penulisan kata majemuk, penggunakan huruf ö dan ŵ atau bagaimana memperlakukan kosa kata dari berbagai dialek di Pulau Nias.

Empat tahap pengembangan bahasa Nias di era digital

Dengan memperhatikan faktor di atas maka strategi pertama, yang seyogianya ditempuh untuk mewujudkan program ini, adalah proses bertahap. Secara garis besar proses ini bisa dilukiskan sbb.:


Tahap 1: Pengumpulan. Dalam tahap ini fokus terletak pada hal mendokumentasikan sebanyak mungkin kata, tulisan atau buku. Secara konkritnya hal itu bisa dijabarkan sbb:

Untuk kamus:

  • Menulis sebanyak mungkin entri kata

Untuk ensiklopedia:

  • Menerjemahkan sebanyak mungkin berbagai tulisan pilihan di bidang biologi, geografi, hukum sejarah, seni dlsb. dari Wikipedia bahasa Indonesia dan Inggris
  • Menulis sebanyak mungkin topik tentang bahasa, budaya dan sejarah Nias

Untuk buku:

  • Menulis sebanyak mungkin buku tentang berbagai hal yang menyangkut bahasa, budaya dan sejarah Nias
  • Menulis sebanyak mungkin buku pelajaran untuk anak umur 3-12 tahun

Tahap 2: Perbaikan. Dalam tahap ini fokus lebih pada memperbaiki tulisan/entri yang telah ada dengan menyetrika salah tulis dan hal lainnya yang berkaitan dengan tata bahasa serta memperbaiki tata letak.

Kamus:

  • Pemeriksaan salah ketik, salah definisi, salah kategori dlsb.

Ensiklopedia:

  • Pemeriksaan salah ketik, salah kategori, salah referensi dlsb.

Buku:

  • Pemeriksaan salah ketik, salah konstruksi kalimat, salah klasifikasi dlsb.

Tahap 3: Pengembangan. Dalam tahap ini tulisan/entri yang telah ada dikembangkan lagi.

Kamus:

  • Melengkapi entri mis. dengan cara pengucapan, contoh gambar, mengambil contoh kalimat dari literatur yang tersedia (bukan sekedar frasa buatan)
  • Membuat tesaurus
  • Membuat pohon kata (kata-kata yang saling berhubungan membentuk satu pengertian)

Ensiklopedia:

  • Melengkapi berbagai portal topik ilmu pengetahun
  • Menciptakan berbagai koneksi antar tulisan, misalnya tanggal-tanggal bersejarah yang bisa digarap dari berbagai tulisan dan menjadikannya menjadi sebuah lini masa
  • Mengusahkan tulisan dari Wikipedia masuk ke Wikidata,

Buku:

  • Mengidentifikasi buku-buku lainnya yang perlu misalnya di bidang pendidikan, kesehatan, bisnis

Tahap 4: Penerapan.

Kamus:

  • Menggunakan isi kamus (bersama ensiklopedia dan buku) untuk proyek-proyek berbasis kecerdasan buatan (artifical intelligence) dan pembelajaran mesin (machine learning)

Ensiklopedia:

  • Mengusahakan supaya Wikipedia menjadi referensi pertama masyarakat Nias untuk mencari informasi tentang berbagai hal dalam hidup sehari-hari, baik dengan cara menulis maupun dengan suara

Buku:

  • Mengusahakan supaya buku-buku yang ada di Wikibuku dipakai oleh masyarakat Nias


Demikian secara garis besar proses bertahap yang menurut saya harus kita tempuh kalau mempertimbangkan berbagai faktor di atas. Keberhasilan program kita untuk menyampaikan pengetahuan kepada generasi digital berikut penutur bahasa Nias sangatlah bergantung pada kemampuan kita memaksimalkan sumberdaya terbatas yang kita miliki. Tetapi seperti digambarkan di atas, kendati segala keterbatasan nampaknya hal itu tidak mustahil untuk dicapai. Meminjam ungkapan dari bahasa Inggris, making impossible things possible. Tetapi hal itu hanya mungkin dengan sebuah strategi yang tepat. Semoga.